Animasi tulisan bergerak

Ditulis dalam kategori Efek Teks,

Tutorial Photoshop kali ini akan membahas cara pembuatan efek tulisan bergerak ( animasi ) dengan format file gif. Animasi ini dibuat dengan program photoshop pada awalnya, kemudian proses pembuatan animasinya dengan menggunakan Adobe Image Ready. Jika photoshop yang digunakan adalah versi CS3, maka animasi ini bisa dibuat langsung dengan Photoshop, tanpa harus menggunakan image ready.

Tutorial pembuatan animasi tulisan dengan Photoshop

Langkah 1
Buatlah sebuah file baru dengan Photoshop. Ukuran file bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Pada tutorial ini, saya menggunakan sebuah file yang berukuran 468 x 60 pixel; 72 dpi; RGB; content=white.

Langkah 2
Buatlah sebuah tulisan dengan menggunakan Type tools pada Photoshop.

Langkah 3

  • Jika Anda menggunakan versi Photoshop 7 hingga CS:
    Klik icon Jump to Image ready. Icon ini terletak di sebelah bawah pada Tools Box. Anda juga bisa memilih menu File > Jump To > Adobe ImageReady 7.0 (pada Photoshop 7), atau File > Edit in Image Ready (pada Photoshop CS).
  • Jika Anda menggunakan versi Photoshop CS3:
    Pilih menu Window > Animation

Langkah 4
Akan Anda dapati sebuah palet panjang di sebelah bawah (bentuk tampilan relatif sama baik pada Image Ready ataupun Photoshop CS3).

Jika perlu, perlebar tampilan palet ini dengan melakukan klik dan geser pada sudut kanan bawah palet tersebut.

Langkah 5
Geser tulisan hingga ke sebelah kiri luar dari background yang putih, hingga seluruh tulisan tidak nampak.

Langkah 6
Klik icon Duplicate current frame.

Langkah 7
Sekarang ada 2 frame pada palet Animation. Pastikan yang terpilih sekarang adalah frame kedua.
Geser lagi tulisan hingga sisi kanan luar dari background.

Langkah 8
Klik icon Tweens animation frames.

Tujuan penggunaan Tween ini adalah untuk mempermudah pembuatan frame-frame animasi. Tween akan menambahkan frame secara otomatis berdasarkan perbedaan posisi, ukuran, tranparansi, dan efek pada obyek.

Kemudian akan muncul kotak dialog baru, seperti gambar tutorial berikut ini.

Pada kotak dialog ini, kita bisa mengatur:

  • Tween with: digunakan untuk memilih frame mana yang akan kita gunakan sebagai dasar animasi berdasarkan frame yang aktif. Karena kita aktif pada frame kedua, maka yang tepat adalah Previous Frame.
  • Frame to Add: digunakan untuk memilih jumlah frame yang akan ditambahkan. Semakin banyak jumlah frame, animasi akan semakin nampak halus, tetapi ukuran file hasil jadinya akan semakin besar.
  • Layers: digunakan untuk memilih animasi pada antara semua layer, atau hanya pada layer yang aktif saja.
  • Parameters: digunakan untuk memilih jenis perubahan obyek yang digunakan sebagai dasar animasi

Langkah 9
Klik icon Plays/stops animation.

Animasi sudah jadi. Jika Anda menginginkan pengaturan kecepatan animasi, bisa Anda pilih dari tulisan 0 sec disebelah bawah frame.

Jika pengaturan kecepatan ini akan dilakukan pada banyak frame sekaligus, maka klik sebuah frame, kemudian tekan dan tekan tombol Shift, lalu klik frame yang lain. Bisa juga dengan Ctrl + klik frame yang lain. Setelah terpilih banyak frame sekaligus, baru ubah kecepatannya. Pengubahan kecepatan animasi akan berlaku pada semua frame yang terpilih.

Untuk menyimpan hasil animasi, pilihlah menu File > Save Optimized pada Adobe ImageReady. Atau File > Save for Web & devices pada Photoshop CS3. Pastikan format file yang dipilih adalah gif.

Berikut ini adalah hasil dari tutorial ini, sebuah tulisan dengan efek gerak yang disimpan dengan format file gif.

Silahkan dicoba dan digunakan sebagai tambahan materi belajar photoshop. Berikut ini ada 2 buah contoh file lain. Silahkan dicoba sendiri juga untuk membuat seperti gambar-gambar berikut ini.

Gambar contoh animasi 1

Gambar contoh animasi 2

Tutorial yang terkait

Kembali ke atas

Publikasi Ulang

Copy-Paste kode berikut jika Anda ingin mempublikasikan ulang untuk keperluan      non-komersil.
DILARANG memodifikasi sebagian atau seluruh bagian dari kode ini.

Pencarian Pengunjung

ganti background cetak photo membuat ukuran photo cetak foto contoh undangan pernikahan

Selamat datang diPerpustakaan IPB.

Pelatihan membuat blog staff pada kamis, 20 Mei 2010  yang diselenggarakan DKSI sangat banyak diminati, hal tersebut terbukti dari peserta yang hadir.  Pada umumnya peserta merasakan minimnya waktu yang disediakan oleh panitia sehingga sebagian peserta ada yang menginginkan pelatihan lanjutan. Dengan waktu yang relatif sangat singkat tidak cukup bagi peserta untuk mengerti pembuatan blog yang diharapkan terlebih blog hasil dari pelatihan ini akan dilombakan di tingkat IPB. Saking antusiasnya peserta ada yang enggan meninggalkan ruangan pelatihan Cyber Merpati DKSI-IPB. (RWD)

KEPUASAN PEMAKAI DAN PENINGKATAN KUALITAS

BERBASIS PEMAKAI:

Pendekatan Manajemen Pemasaran sebagai Paradigma Baru Perpustakaan*)

Oleh

Dwi Surtiawan **)

I.  PENDAHULUAN

A.  Konsep Customer Value

Konsumen adalah raja.  Suatu ungkapan yang sangat familiar di telinga dan pikiran semua orang.  Di dunia pemasaran ungkapan tersebut menjadi suatu harga mati yang harus diterapkan.  Bahkan begitu merasuknya dalam praktek keseharian, ungkapan tersebut sudah menjadi lelucon atau bahan olokan bagi pelaku bisnis.  Tidak sedikit konsumen salah menafsirkan ungkapan tersebut sehingga lagak, gaya dan tuntutannya benar-benar mengidentikkan diri sebagai seorang raja. Segala sesuatu harus dilayani dengan sempurna.  Kejadian dan sikap berlebihan tersebut seringkali menjadikan seorang karyawan merasa dongkol dan berdampak pelayanan yang diberikan tidak sesuai ketentuan perusahaan.

Pada hakekatnya konsumen yang menghidupi seluruh karyawan.  Perusahaan memproduksi barang atau jasa ditujukan kepada konsumen.  Konsumen membayar manfaat yang diperoleh dari produk barang atau jasa yang dinikmatinya.  Bila pasar berjalan dengan sempurna, di mana konsumen mempunyai banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhannya, maka produsen harus benar-benar mengetahui apa yang dibutuhkan konsumen.  Produsen yang mampu memahami dan memenuhi kebutuhan konsumen, dan konsumen merasa puas terhadap kinerja dan layanan yang diberikan akan mampu bertahan di era global.  Konsumen merupakan faktor kunci sukses (key succes factor/KSF).

Memahami karakteristik konsumen merupakan hal yang sangat fundamental.  Maka pola pikir yang dibangun perusahaan atau organisasi juga harus mengikuti logika konsumen.  Pada tataran ini akan timbul konsep yang dikenal dengan customer value (nilai konsumen).  Mulyadi (2001:230) mendefinisikan customer value sebagai selisih antara manfaat yang diperoleh konsumen dari produk barang atau jasa yang dikonsumsi dengan pengorbanan yang dilakukan konsumen untuk memperoleh manfaat itu.  Manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dilakukan oleh konsumen ditentukan oleh tingkat kualitas hubungan yang dibangun antara produsen dan konsumen.

_____________________________________________________

*)    Artikel peserta Lomba Penulisan Karya Tulis Ilmiah bagi Pustakawan Tahun 2006

**)    Pustakawan  pada Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta

Praktik di dunia pemasaran dan jasa tersebut juga terjadi di ranah perpustakaan.  Pembeli atau konsumen di perpustakaan disebut pengunjung atau pemakai (user). Perpustakaan harus jeli melihat pasar dan menentukan segmentasi pemakainya. Di perpustakaan perguruan tinggi,  sivitas akademika perguruan tinggi merupakan segmen utama yang harus dilayani.  Pada perpustakaan umum  pemakai utamanya adalah penduduk di wilayah perpustakaan umum tersebut, terutama penduduk yang tidak dapat lagi memperoleh akses pada pendidikan formal.

B. Perpustakaan   Sebagai   Institusi   Penyedia  Jasa Kontemporer

Perpustakaan merupakan suatu lembaga penyedia jasa informasi yang sebagian besar bertujuan tidak untuk mencari keuntungan atau nirlaba. Pada banyak praktik di Indonesia, karena institusi bersifat nirlaba,  maka kualitas layanan kepada pemakai tidak menjadi prioritas.  Bekerja asal tidak melanggar aturan, target pencapaian minimal dan rendahnya budaya kualitas adalah gambaran yang jamak terjadi, demikian pula dengan perpustakaan.  Sorotan dan tuntutan terutama pada pegawai negeri sipil sangat besar.  Slogan layanan prima hanya ada pada pelatihan dan seminar belaka.

Sementara itu perubahan paradigma manajemen jasa sangat cepat.  Di negara maju pendekatan prinsip pemasaran sudah dilakukan oleh perusahaan jasa hampir seabad silam.  Pemakai merupakan faktor utama eksistensi dan operasionalnya suatu institusi, terlebih lagi institusi penyedia jasa.  Perubahan paradigma yang terjadi digambarkan dengan jelas oleh pakar pemasaran Indonesia yaitu Hermawan Kertajaya.  Kertajaya membuat suatu kredo yang terkenal dengan The 10 Credos of Compassionate Marketing di mana kredo kedua adalah ”BE SENSITIVE TO CHANGE AND BE READY TO TRANSFORM” dengan tambahan keterangan yang menyebutkan:

“Dunia tidak akan selamanya seperti ini. Lanskap bisnis akan terus berubah.  Kompetisi yang semakin sengit tidak mungkin dihindari lagi.  Globalisasi dan teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar.  Kalau kita tidak sensitif dan tidak cepat-cepat mengubah diri, maka kita akan habis”

Sudah menjadi keharusan bagi pustakawan dan perpustakaan di Indonesia  agar mampu bersaing di lingkungan global.  Menurut Mulyadi (2001:256) keberhasilan organisasi dalam memasuki lingkungan global dipengaruhi oleh empat faktor yaitu :

  1. Kecepatan organisasi dalam merespon kebutuhan pemakai/konsumen;
  1. Fleksibilitas personil dalam penyesuaian diri dengan perubahan lingkungan bisnis, kemampuan belajar keterampilan baru, kebersediaan memasuki lingkungan baru yang sama sekali belum pernah dikenal;
  1. Keterpaduan antara organisasi dengan stockholder untuk memenuhi kebutuhan pemakai; dan
  1. Kemampuan organisasi untuk menciptakan produk baru dan proses baru untuk memenuhi perubahan kebutuhan pemakai/konsumen.
  1. C. Perpustakaan  Dan  Manajemen Pemasaran  Jasa

Penggunaan prinsip-prinsip pemasaran sudah merupakan keharusan untuk diterapkan di organisasi nirlaba seperti perpustakaan.  Kotler (1997:13) mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan-tujuan individu dan organisasi.

Dalam pendekatan pemasaran di perpustakaan beberapa hal yang menjadi pertanyaan utama antara lain: Siapa pemakai utama perpustakaan? Apa yang pemakai inginkan dari layanan perpustakaan? Apa yang dapat dilakukan perpustakaan agar keinginan pemakai terpenuhi? Dan dengan cara apa perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan pemakai?

Sejumlah pertanyaan tersebut merupakan dasar bagi perpustakaan dalam menjalankan aktivitasnya.  Tuntutan perubahan dan dinamika perilaku pemakai sangat  memerlukan pendekatan pemasaran agar organisasi mampu bertahan.  Untuk itu seluruh pegawai di lingkungan perpustakaan dimana pun level dan bidang tugasnya wajib memahami dan menjalankannya.

  1. D. Studi  Mengenai  Kualitas  Jasa  Di  Perpustakaan

Ilmu perpustakaan dan aktivitas operasional sehari-hari selalu berkaitan dengan disiplin ilmu yang lain.  Ada dua disiplin ilmu yang sangat berpengaruh pada kegiatan operasional perpustakaan, pertama teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology) yang berkaitan dengan kegiatan operasional perpustakaan sehari-hari seperti digitalisasi koleksi, sistem layanan dan e-library.  Disiplin ilmu yang kedua adalah manajemen, khususnya manajemen pemasaran.  Manajemen pemasaran lebih berkaitan dengan sumber daya manusia seperti peningkatan kompetensi, interaksi antar individu dan atau lembaga, kepuasan kerja, kepuasan pemakai, kualitas layanan dan sebagainya.

Beberapa studi dan penelitian mengenai pemasaran yang memfokuskan tentang tingkat kepuasan pemakai dan kualitas layanan perpustakaan telah dilakukan dan diterapkan di banyak perpustakaan negara maju seperti di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

  1. 1. Di Amerika Serikat

Dipelopori oleh American Library Association (ALA) banyak menyelenggarakan seminar dan publikasi tentang fungsi pemasaran untuk perpustakaan. Pada tahun 1876 ALA mengadakan satu konferensi di mana salah satu pembicaranya Samuel Sweet Green, mengambil topik pengembangan hubungan personal antara pustakawan dan pembaca.  Pada konferensi lain di tahun 1896, Lutie Stearns membahas pentingnya periklanan di perpustakaan.  Setelah itu banyak sekali seminar tentang pengembangan perpustakaan dengan mengadopsi prinsip-prinsip pemasaran.

The Association of Research Libraries (ARL) yang berdiri tahun 1932 lebih banyak memfokuskan pada penelitian ilmiah di bidang perpustakaan.  Konferensi, workshop dan kursus mengenai pemasaran khususnya peningkatan mutu banyak dilakukan.  Pelatihan yang cukup fenomenal antara lain penggunaan metode service quality (SERVQUAL) yang dikembangkan tahun 1980an oleh A. Parasuraman, L.L. Naerry dan V.A. Zeithaml untuk perpustakaan.  Metode ini di perpustakaan dinamakan dengan Library Quality (LIQUAL).

Perpustakaan Universitas Harvard menerapkan metode Total Quality Manajemen (TQM) sejak awal tahun 1980.  Sebelum penerapan di perpustakaan metode ini telah diterapkan di lingkungan universitas.  Studi mengenai manajemen pemasaran juga banyak dilakukan.  Setelah diimplementasikan di perpustakaan, metode TQM mampu memberi manfaat ganda bagi semua pihak yang terkait dengan perpustakaan.

  1. 2. Di Eropa

International Federation of Library Association and Institution (IFLA) memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan prinsip-prinsip pemasaran di perpustakaan terutama di kawasan Benua Eropa.  Greta Renbog (1997) dalam satu artikelnya menulis bahwa Andrean Schack Steenberg, seorang pustakawan Denmark, setelah menamatkan belajar di Amerika Serikat pada tahun 1903 mempelopori istilah ”tugas lanjutan (extention work)” untuk perpustakaan.  Menurut Harrod’s The Librarians ”extention work” didefinisikan sebagai:

”activities which are undertaken with the object of reaching group of people who might otherwise be unaware of the library”.

Aktifitas lanjutan yang dimaksud tersebut banyak berkaitan dengan fungsi-fungsi pada manajemen pemasaran, yang antara lain berupa kegiatan periklanan, hubungan masyarakat dan publikasi.  Tahun 1963 IFLA memelopori adanya konferensi tentang pengembangan perpustakaan terutama berkaitan dengan hubungan masyarakat.

II     PERMASALAHAAN

Pemakai atau konsumen pada pemasaran kontemporer memegang peran yang paling penting.  Pemakailah yang menentukan tingkat layanan yang diinginkan beserta atribut-atribut yang mempengaruhi kualitas layanan (customer-driven quality). Beberapa pertanyaan yang muncul berkaitan dengan bagaimana menciptakan kepuasan pemakai dan meningkatkan kualitas berbasis pemakai antara lain:

  1. Apa dan bagaimana kepuasan pemakai berbasis pada pemakai?
  2. Apa dan bagaimana kualitas berbasis pada pemakai?
  3. Bagaimana penerapan di perpustakaan?
  4. Mengapa perlu diterapkan di perpustakaan?

Bila diinventarisir lebih lanjut, sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang muncul pada masalah ini.

Pemahaman terhadap prinsip-prinsip pemasaran yang berkaitan dengan kepuasan pemakai dan kualitas mutu layanan sangat diperlukan untuk landasan operasional perpustakaan.  Kesadaran pustakawan akan tuntutan perubahan menuju pendekatan pemasaran masih sangat rendah.  Pada tulisan ini hanya memaparkan secara garis besar saja, yaitu berkaitan dengan bagaimana memenuhi kepuasan pemakai dan tingkat kualitas layanan perpustakaan dengan berbasis pada pemakai.

III   KEPUASAN PEMAKAI

  1. A. Peristilahan

Banyak definisi berkaitan dengan kepuasan pamakai (customer satisfaction) antara lain disebutkan oleh Tjiptono (2004) yang mengutip pendapat Day:

Kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian/diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja lainnya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan oleh pemakai.

Dengan bahasa yang lebih sederhana Kotler (1994) menyebutkan kepuasan pelanggan sebagai:

Tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya.

Dalam satu penelitian yang dilakukan  oleh ARL di Amerika Serikat, harapan utama pemakai setelah memanfaatkan perpustakaan untuk meningkatkan keyakinan dan kepercayaan diri setelah memperoleh informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari koleksi yang dimanfaatkan.

Konsep kepuasan pemakai dapat dijelaskan pada gambar di bawah:

TINGKAT KEPUASAN PEMAKAI

Gambar 1. Konsep Kepuasan Pemakai bersumber Fandy Tjiptono (2000);    Manajemen Jasa Yogyakarta; Andi Offsett

  1. B. Metode Mengukur Kepuasan Pemakai

Kotler (1997:38) menyebutkan beberapa metode untuk mengukur kepuasan pemakai,  antara lain:

  1. 1. Sistem keluhan dan saran

Perpustakaan dapat membuat kotak saran dan menempatkan di tempat yang paling sering dilewati pemakai. Untuk dapat memberikan masukan, tanggapan, keluhan atas segala aktifitas dan layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Atau dengan memberikan sejenis kartu komentar yang diisi oleh pemakai dapat diberikan langsung kepada petugas perpustakaan atau melalui pos. Di negara maju terdapat layanan telepon bebas atau pesan singkat. Kemajuan teknologi ini sangat berarti dalam memahami kepuasan pemakai

  1. 2. Survei kepuasan pemakai

Banyak metode survey yang digunakan untuk memahami tingkat kepuasan pemakai. Survei tersebut dapat secara kualitatif maupun kuantitatif. Saat ini metode kuantitatif lebih banyak dilakukan karena metode ini cukup  familiar dan keakuratannya cukup tinggi. Survey bisa dilakukan oleh internal perpustakaan, atau menyewa konsultan biro jasa yang khusus menangani tentang survey kepuasan pemakai. Beberapa metode survey kepuasan pemakai antara lain: direct reported satisfaction, derived dissatisfaction, problem analysis dan important-performance analysis

  1. 3. Ghost shopping

Metode ini dengan mempekerjakan beberapa orang untuk berperan sebagai pemakai dan harus dijaga identitasnya. Ghost shoppers yang baik akan mencatat apa saja yang dilihat, dirasakan olehnya dan perilaku, sikap dan tatacara petugas perpustakaan dalam menjalankan profesinya. Metode ini biayanya relatif murah dan waktu pelaksanaan fleksibel. Hasil pencatatan Ghost shoppers dikumpulkan dan diadakan diskusi pembahasan.

  1. 4. Analisis kehilangan pemakai (lost customer analysis)

Pimpinan perpustakaan dan pustakawan harus jeli melihat perkembangan pengunjung. Dari aktifitas dan statistik harian akan terlihat tingkat pemanfaatan layanan perpustakaan. Petugas tentu  hafal  pengunjung dan pemakai rutin perpustakaan, bila pengunjung trersebut sudah jarang atau tidak ada lagi ke perpustakaan dengan alasan yang tidak wajar, maka sebab-sebab mengapa tidak lagi memanfaatkan jasa perpustakaan harus dicari.

IV.     BUDAYA KUALITAS

  1. A. DEFINISI

Bila beberapa pemakai perpustakaan ditanya tentang apa dan bagaimana tingkat kualitas pelayanan perpustakaan, maka muncul banyak jawaban. Setiap pemakai berlainan dalam memahami, merasakan dan menilai apa itu kualitas. Tetapi terdapat beberapa hal yang sama berkaitan kualitas layanan perpustakaan yang diharapkan. Beberapa persamaan itu di antaranya:

  1. Pemakai pasti mengharapkan kenyamanan dalam menggunakan seluruh layanan perpustakaan
  2. Pemakai mengharapkan koleksi yang tersedia memenuhi kebutuhannya
  3. Pemakai mengharapkan sikap yang ramah, bersahabat dan responsif dari petugas
  4. Pemakai mengharapkan perpustakaan memiliki akses internet yang cepat.

Sejumlah harapan tersebut pasti ada dalam benak pikiran pemakai, hanya tingkat pengharapan dan prioritas layanan yang diharapkan antar pemakai berlainan. Adanya kesesuaian antara harapan dan kenyataan yang diperoleh merupakan definisi sederhana dari kualitas. Pakar lain yang mendefinisikan kualitas dengan penekanan yang berbeda. Di antaranya oleh Goetsch dan Davis (1994, p.4) yang mendifinisikan kualitas sebagai kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.

Berkaitan dengan kualitas tidak dapat dipisahkan dengan Total Quality Management (TQM). TQM lebih tepat disebut sebagai suatu perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktifitas, pengertian dan kepuasan pelanggan.

Terdapat empat prinsip utama dalam TQM yaitu :

  1. 1. Kepuasan pemakai

Pemakai perpustakaan yang menentukan tingkat kualitas yang diharapkan, spesifikasi, jenis layanan dan sebagainya. Pemakai perpustakaan dalam arti yang luas bukan saja pemakai/pengunjung perpustakaan, tetapi semua pihak yang terkait, misalnya badan yang menaungi perpustakaan (Perpustakaan Nasional, Rektorat, Gubernur, Bupati), mitra kerja, sponsor bahkan dengan penerbit/pedagang buku

  1. 2. Respek kepada setiap orang

Sumber daya manusia merupakan faktor utama dalam organisasi. Setiap orang dipandang sebagai individu yang memiliki bakat, kemampuan, kreatifitas dan kepribadian yang unik, Karena karakteristik tersebut maka pelibatan dan partisipasi setiap orang dalam organisasi sangat penting

  1. 3. Manajemen berdasarkan fakta

Manajemen kontemporer bekerja tidak berdasarkan perasaan (feeling) dan kebiasaan yang terjadi, tetapi harus memiliki data yang komprehensif. Data diperoleh dari fakta yang terjadi di lapangan. Dengan data tersebut selanjutnya diolah sebagai dasar perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan dan evaluasi

  1. 4. Perbaikan berkesinambungan (continuous Improvement)

Agar sukses dan mampu bertahan, sebuah organisasi harus selalu melakukan perbaikan. Perbaikan dilakukan terus menerus karena kualitas bersifat dinamis. Perilaku dan preferensi pemakai juga mengalami perubahan. Prinsip hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin menjadi perilaku seluruh level di organisasi

  1. B. KARAKTERISTIK KUALITAS DI PERPUSTAKAAN

Karakteristik kualitas antara perusahaan jasa dan manufaktur memiliki perbedaan. Bahkan antara penyedia jasa saja juga memiliki kekhususan, misalnya karakteristik jasa perbankan berbeda dengan jasa pendidikan. Demikian juga dengan perpustakaan juga memiliki kekhasan. Perbedaan karakteristik tersebut justru akan memperkaya diskusi mengenai kualitas.

Banyak pakar menentukan karakter kualitas organisasi perpustakaan. Misalnya konsep Servqual yang dipelopori oleh Parasuraman yang membagi menjadi lima karakteristik kualitas. Empat universitas terkemuka di Australia yang bergabung di University 21 juga memiliki karakteristik kualitas yang agak berbeda, demikian pula yang dikembangkan oleh ARL yang memodifikasi apa yang telah dilakukan oleh Parasuraman menjadi Library Quality (LIBQual)

Secara ringkas karakteristik kualitas dan para pelopornya dapat dilihat pada gambar di bawah:

Karakteristik Kualitas Perpustakaan
Parasuraman University 21 libQUAL
Tangible (Bukti Langsung) Fasilitas/Kelengkapan Perpustakaan sebagai tempat
Reliability (Keandalan) Kualitas Layanan Keandalan
Responsiveness

(daya tanggap)

Kualitas Layanan Pengaruh Layanan
Assurance (Jaminan) Komunikasi Akses Informasi
Emphaty (Empati) Manusia Kelengkapan Koleksi

Gambar 2. Karakteristik Kualitas Jasa Perpustakaan diolah dari berbagai sumber

Bila karakteristik kualitas layanan perpustakaan sebagaimana yang digunakan oleh Association of Research Library (ARL) yang dinamakan libQual, maka karakter kualitas layanan perpustakaan seperti gambar di bawah ini

KUALITAS   LAYANAN PERPUSTAKAAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi layanan
Keandalan
Sistem layanan
Kenyamanan
Kemudahan pemanfaatan
Papan petunjuk
Pengaturan ruang
Tata letak

Gambar 3. Karakteristik Kualitas Jasa Layanan Perpustakaan menurut libQUAL diambil dari Cook, Colleen and Heath, Fred (2000)

  1. 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi Layanan
  2. a. Empati

Yaitu suatu sikap, respon dan tindakan dimana pustakawan dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pemakai.  Pemakai datang ke perpustakaan tentunya bermaksud mencari buku yang dibutuhkan, maka semaksimalnya apa yang dibutuhkan pemakai dapat terpenuhi.  Ada kalanya pemakai datang untuk sekedar mencari kenyamanan dan ketenangan, maka pustakawan mencoba mengkondisikan apa yang dirasakan oleh pemakai.

  1. b. Daya Tanggap (Responsiveness)

Salah satu ciri seorang profesional adalah memiliki daya tanggap yang cepat atau responsif.  Pemakai akan sangat terkenang dengan respon cepat dari pustakawan atas kebutuhan yang dihadapinya.

  1. c. Jaminan (Assurance)

Yang  termasuk jaminan antara lain kemampuan, kesopanan, sifat yang dapat dipercaya oleh pustakawan, sehingga pemakai akan merasa nyaman dalam memanfaatkan layanan perpustakaan.

  1. 2. Keandalan (Reliability)

Kemampuan pustakawan untuk memberikan layanan sesuai yang dijanjikan dengan akurat, cepat dan memuaskan.  Misalnya untuk satu kali transaksi peminjaman bila standar waktunya 30 detik/transaksi, maka maksimal waktu 30 detik itu yang harus diberikan kepada pemakai.  Perpustakaan memiliki standar operasional dalam setiap jenis layanan, misalnya pengolahan buku dari sejak buku datang sampai siap dipinjam oleh pemakai memerlukan waktu berapa hari.  Standar tersebut dikomunikasikan kepada pemakai.

  1. 3. Kemudahan Pemakaian
  2. a. Jenis Layanan

Pemakai akan lebih menyukai perpustakaan yang menggunakan sistem layanan terbuka.  Pemakai secara psikologis lebih senang bila tahu betul keberadaan bahan pustaka yang diinginkan.  Pada sistem layanan tertutup, kecurigaan pemakai kepada pustakawan untuk bersikap adil dalam melayani pemakai selalu ada. Sistem layanan terbuka lebih memungkinkan interaksi yang lebih mendalam antara pustakawan dan pemakai.

  1. b. Kemudahan pemanfaatan

Kemudahan menggunakan seluruh fasilitas perpustakaan dengan membuat aturan yang mudah dipahami, jelas dan tidak birokratis.  Peraturan yang terkesan diada-adakan dan semboyan bila-bisa dipersulit mengapa dipermudah harus dijauhkan.

  1. c. Tata letak

Tata letak di sini lebih difokuskan kepada penempatan perabotan dan perlengkapan agar pemakai mudah menggunakan koleksi perpustakaan.  Perabotan yang ergonomis sangat membantu kenyaman pemakai.

  1. 4. Kelengkapan Koleksi

Kelengkapan koleksi merupakan salah satu faktor utama pendorong masyarakat berkunjung dan memanfaatkan layanan perpustakaan.  Survey di empat perpustakaan universitas terkemuka di Australia menunjukkan dari 40 item harapan terhadap layanan perpustakaan, koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai menempati urutan ketiga.  Peran bagian pengembangan koleksi sangat penting untuk memajukan perpustakaan.

  1. 5. Perpustakaan sebagai tempat
  2. a. Kenyamanan

Sebagian besar orang kalau ditanya mengenai perpustakaan, maka jawabannya biasanya tempat menyimpan buku.  Posisioning perpustakaan sebagai tempat buku atau gudang buku masih kuat tertancap dibenak pikiran masyarakat.  Lebih ironis lagi gedung perpustakaan dipersepsikan kotor, tua, berdebu dan statis.  Fasilitas dan kegunaan perpustakaan yang lain menjadi tidak berarti.  Pendapat seperti di atas harus segera diluruskan.

Tempat yang nyaman, teduh, bersih dan membuat betah merupakan prioritas sebuah perpustakaan.  Gedung perpustakaan juga harus lebih dinamis dalam merespon aktifitas pegawai dalam melayani pemakai, maupun kebutuhan tambahan pemakai.  Ruangan dan aktifitas tambahan di luar kegiatan utama kepustakawanan tersebut, antara lain: ada ruang untuk diskusi kecil maupun seminar, aula yang besar, jika perlu terdapat ruang pamer benda seni atau fotografi.

  1. b. Papan petunjuk

Denah dimana perpustakaan berada, penting diberikan. Petunjuk arah ditempatkan  di lokasi yang strategis sehingga pemakai mudah menemukannya. Denah di dalam gedung juga perlu diperhatikan, apalagi biasanya gedung perpustakaan memiliki banyak lantai. Kemudahan pemakai mendapatkan yang dibutuhkan sangat membantu kenyaman pemakai.

  1. c. Pengaturan ruangan

Ruangan yang tertata baik dan fungsional akan memudahkan pegawai maupun pengunjung dalam memenuhi kebutuhannya. Pengaturan ruangan yang baik sangat mempengaruhi tingkat intensitas kunjungan pemakai. Penggunaan konsultan disain interior maupun eksterior dalam derajat tertentu jauh lebih efektif dan efisien.

  1. C. Layanan  Prima

Sebagai seorang yang hidup dari usaha jasa, pustakawan dituntut untuk dapat melakukan pelayanan prima bagi pemakainya. Layanan prima (service excellence) tersebut diharapkan mampu memuaskan kebutuhan pemakai secara proporsional. Terdapat empat unsur utama dalam konsep pelayanan prima, yaitu: kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan. Keempatnya merupakan satu kesatuan yang terintegrasi, artinya keempatnya harus ada, tidak boleh ada yang tertinggal jika ingin disebut layanan prima.

Pengakuan layanan prima dari pemakai akan menimbulkan manfaat ganda bagi semua pihak, yaitu pustakawan, pemakai maupun lembaga perpustakaan atau lembaga yang menaunginya. Semua pihak merasa diuntungkan dan menguntungkan. Kesadaran untuk saling memberikan yang terbaik, menghargai antar pribadi/lembaga dan bekerja sama perlu selalu dipupuk. Sasaran dan manfaat pelayanan prima dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Sasaran Layanan Prima Manfaat Layanan Prima
Untuk  Pemakai Untuk Pustakawan Institusi Perpustakaan
Memuaskan Pemakai Kebutuhan terpenuhi Lebih percaya diri Mengesankan profesionalitas (corporate image) baik
Meningkatkan loyalitas pemakai Merasa dimanusiakan, di- hargai dan men- dapat pelayanan yang baik Ada kepuasan pribadi bisa mem- bantu dan ber- manfaat bagi orang lain Kelangsungan hidup terjamin
Meningkatkan jumlah pengun-jung dan kualitas layanan Timbulnya keper-cayaan dari pemakai Ketenangan, lebih profesional, ada pengakuan dari pihak luar dalam bekerja Mendorong pihak-pihak yang berkaitan dengan perpustakaan lebih percaya, meningkatkan hubungan dan donasi/ anggaran yang diberikan
Meningkatkan nilai perpusta-kaan Bangga  sebagai anggota  perpus-takaan yang prestisius Menambah sema-ngat bekerja, me-ningkatkan profe-sionalisme dan karir Menaikkan posisi tawar perpustakaan, lebih di-hargai dan sebagai per-contohan bagi unit/ lembaga yang lain

Gambar 4. Sasaran dan manfaat layanan prima dimodifikasi dari Fandy Tjiptono (2004) Manajemen Jasa.  Yogyakarta: Penerbit Andi

V.    PENUTUP

Perkembangan dunia perpustakaan di negara-negara maju terjadi dengan sangat cepat.  Penelitian tentang perpustakaan terutama berkaitan dengan pemasaran masih sedikit di Indonesia.  Ketertinggalan tidak cukup untuk diratapi, tetapi tantangan ke depan yang maha berat harus dihadapi.  Faktor yang menjadi kendala bagi kemajuan perpustakaan di Indonesia juga dihadapi oleh pelaku jasa yang lain.  Tinggal bagaimana sumber daya manusia, dalam hal ini pustakawan, mampu untuk selalu berpikir positif dan terus mengembangkan diri.  Eksistensi suatu lembaga akhirnya akan ditentukan oleh seberapa besar lembaga tersebut bermanfaat secara optimal dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

Terdapat dua kunci yang menjadi awal dari kemauan untuk memenuhi kebutuhan pemakai, yang pertama adalah kesadaran bahwa melayani merupakan ibadah.  Membuat bahagia dengan memberikan informasi kepada orang yang memerlukan adalah kegiatan yang mulia.  Melayani orang lain, apalagi menyadari kalau pemakai perpustakaan merupakan orang yang menghidupi kita, harus tertanam di hati pustakawan dan dipraktekkan sehari-hari.

Kunci yang kedua, sebagai pribadi yang beriman tentu meningkatkan kualitas diri merupakan suatu kewajiban. Dalam agama Islam terdapat suatu hadist yang sangat erat berkaitan dengan budaya kualitas, yaitu : Orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin, maka orang tersebut beruntung. Bila hari ini sama dengan hari kemarin, maka orang tersebut tergolong merugi. Merugi dalam hal waktu yang terbuang percuma. Dan bila hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka orang tersebut tergolong celaka. Dalam redaksi yang lain, tentu semua agama mengajarkan kebaikan, sikap tolong menolong dan meningkatkan kualitas diri. Semua bergantung kemauan kita sebagai pustakawan untuk mampu berperan dan tidak tergerus laju globalisasi.

Kunci sudah berada di tangan pustakawan. Mau merubah diri dengan sikap proaktif kepada pemakai dan selalu meningkatkan kualitas diri, sehingga tetap eksis atau diam dan tergarus arus globalisasi. Jangan mengharap perubahan datang dan/atau akibat dari luar, berubahlah karena kesadaran diri. Perubahan yang berasal dari dalam akan berdampak luar biasa dan dengan percepatan yang jauh lebih cepat juga.

DAFTAR PUSTAKA

Cook, Colleen and Heath, Fred (2000) User,s perception of library service quality : A LIBQUAL qualitative study: Washington DC: ARL Measuring Service Quality Symposium www.arl.org/libqual/event/oct2000msq/papers/HeatCook/heatcook.html

Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) Total Quality Manajemen, Yogyakarta: Andi Offset

Fandy Tjiptono (2004), Manajemen Pemasaran Jasa, Yogyakarta: Andi Offset

Hermawan Kertajaya The 10 Credos of Compassionate Marketing (www.markplusnco.com)

Kotler, Philip (1997) Manajemen Pemasaran jilid I, Jakarta: PT Prenhallindo

Mulyadi (2001), Alat manajemen kontemporer untuk pelipatgandaan kinerja keuangan perusahaan: Balance scorecard, Jakarta: Salemba Empat

Renborg, Greta (1997) Marketing Library Service. How it all began (s.l.) 63rd IFLA General Conference- (www.ifla.org/IV/ifla63reng.htm)

Trahn, Isabella [et al.] (2001); Analysing The Quality Gap: Reflections on results from an Australasian University 21 libraries standars survey of service quality; Australian Library and Information Association (www.seven-sisters.com/B0008171YU.shtml)

HIKMAH DIBALIK KISAH ISRA’

  1. Perjalanan isra’ dimulai dari masjid Al Haram di kota Makkah ialah karena kota Makkah pada waktu itu adalah pusat segala macam bentuk kejahatan, kemaksiatan, kemungkaran, kemusyrikan dan kekufuran. Sehingga kota Makkah dapat diibaratkan sebagai lambang rumah tangga, atau wilayah, atau negara yang rusak, berantakan dan kacau balau.
  2. Perjalanan isra’ berakhir di masjid Al Aqsha ialah karena masjid tersebut dinyatakan oleh Allah swt. dalam surat Al Isra’ ayat 1 sebagai tempat yang telah diberkahi sekelilingnya, sehingga masjid Al Aqsha dapat diibaratkan sebagai rumah tangga, atau wilayah,atau negara yang aman, tenteram, damai, adil dan makmur lahir dan batin, material dan spiritual.
  3. Singgah di Madinah, karena kota Madinah adalah tempat hijrah dari Nabi Muhammad saw.
  4. Singgah di Madyan, karena kota Madyan adalah tempat hijrah dari Nabi Musa as. sewaktu akan dibunuh oleh raja Fir’aun dari Mesir. Di Madyan ini nabi Musa as. diambil menantu oleh nabi Syu’aib as. Dan setelah nabi Musa as . kaya raya dan merasakan kenikmatan hidup, beliau diperintah oleh Allah swt. pergi ke Mesir untuk berjuang dan membebaskan bangsa Yahudi dari kemiskinan dan penindasan raja Fir’aun dengan meninggalkan kesenangan dan kenikmatan hidup yang beliau rasakan.
  5. Singgah di gunung Sinai, karena di gunung Sinai inilah Nabi Musa as. menerima wahyu dari Allah swt. Gunung adalah tempat yang tinggi, sedang wahyu adalah ilmu. Sehingga gunung Sinai adalah lambang dari ketinggian ilmu pengetahuan.
  6. Singgah di Bethlehem, karena kota Bethlehem adalah tempat kelahiran nabi Isa as. Nabi Isa as. adalah seorang nabi yang hidupnya penuh dengan pengorbanan. Sehingga Bethlehem dapat digambarkan sebagai lambang dari keberanian berkorban.
  7. Shalat yang setiap kali dilakukan di tempat-tempat persinggahan, karena shalat itu pada hakekatnya adalah menghadap kepada Allah swt. untuk memohon pertolongan dan petunjuk-Nya.

Hal tersebut memberikan pelajaran bagi kita sekalian, bahwa untuk memperbaiki rumah tangga, atau wilayah atau negara yang kacau balau dan penuh dengan berbagai macam penderitaan, kesengsaraan, kemiskinan, penindasan dan lain sebaginya yang digambarkan sebagai kota Makkah menjadi rumah tangga, atau wilayah, atau negara yang aman, tenteram, penuh dengan kedamaian, kebahagiaan, keadilan dan kemakmuran, haruslah dilakukan melalui tahapan-tahapan berikut:

  1. Tahap Madinah, artinya semua anggota rumah tangga atau seluruh penduduk sesuatu wilayah atau negara harus mau berhijrah yang berarti meninggalkan kemusyrikan, kekufuran, kemaksiatan, kemungkaran dan segala macam bentuk perbuatan dan sikap yang negatif.
  2. Tahap Madyan, artinya jika semua penghuni rumah tangga, atau wilayah, atau negara sudah mau melakukan hijran, meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. dan sudah mau bertaqwa dalam arti yang sebenarnya, maka setiap orang yang menjadi pemimpin rumah tangga, atau wilayah, atau negara tersebut jangan sampai bersenang-senang, bernikmat-nikmat dan bermewah-mewah dalam hal makanan, pakaian dan tempat tinggal, selagi orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya masih ada yang hidup dalam keadaan melarat, apalagi hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. setelah beliau memperoleh kemenangan demi kemenangan dalam peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik dan banyak memperoleh rampasan perang. Jika mau tentu beliau dapat memperkaya diri, sebab beliau memegang jabatan rangkap, yaitu sebagai Rasul Allah, Kepala negara dan Panglima Perang. Akan tetapi catatan sejarah menunjukkan bahwa rumah beliau hanya sebesar ruangan yang sekarang dijadikan makam beliau di masjid Nabawi di Madinah; pakaian beliau sangat sederhana; dan menurut hadits yang diriwayatkan dari isteri beliau Siti ‘Aisyah ra., beliau tidak pernah kenyang selama dua hari berturut-turut. Harta kekayaan beliau lebih banyak dipergunakan untuk kepentingan rakyatnya dari pada dipergunakan untuk kepentingan keluarga beliau sendiri.
  3. Tahap gunung Sinai, artinya ialah bahwa untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sempurna, setiap penghuni rumah tangga, atau wilayah, atau negara harus selalu berusaha untuk meningkatkan ketinggian ilmu pengetahuan. Sebab dengan pengetahuan yang tinggi, terutama ilmu agama, seseorang akan menjadi mudah untuk menyelesaikan setiap problem atau masalah yang dihadapi dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari.
  4. Tahap Bethlehem, artinya ialah bahwa untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sejati, diperlukan keberanian untuk berkorban, baik harta, tenaga, bahkan jiwa sekalipun; terutama korban perasaan atau korban sentimen. Sebab di mana-mana sekarang ini dapat kita saksikan banyak orang yang telah mengakui dan menyadari akan kebenaran dari ajaran agama Islam. Namun karena mereka harus mempertahankan gengsi dan tidak berani mengorbankan perasaan dan sentimen, mereka tetap berpegang teguh pada ajaran agama yang hati kecil mereka sebenarnya telah menyatakan kebatalannya.

Shalat dua raka’at yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad saw. atas anjuran malaikat Jibril di tempat-tempat persinggahan, adalah memberikan pelajaran kepada kita sekalian bahwa pada saat kita sedang menekuni pekerjaan dalam rangka mencapai cita-cita yang menjadi tujuan hidup kita, kita akan menyadari bahwa kemampuan kita sebagai manusia adala sangat terbatas, jauh berkurang dibandingkan
dengan cita-cita kita.

Untuk itu secara mutlak kita memerlukan petunjuk, bimbingan dan pertolongan dari Allah swt. Petunjuk, bimbingan dan pertolongan tersebut harus kita minta. Untuk meminta petunjuk, bimbingan dan pertolongan kepada Allah swt. kita harus menghadap (sowan = sebo Jw.) dengan cara yang telah ditetapkan dan yang telah direstui oleh Allah swt.sendiri, yaitu shalat menurut ajaran agama Islam. Jadi pada saat kita sangat sibuk menjalankan tugas-tugas yang amat penting sebagaimana kesibukan yang dialami oleh Nabi Muhammad saw. pada saat memenuhi panggilan dari Allah swt. untuk menjemput kewajiban shalat, maka kita harus lebih aktif menunaikan shalat, menghadap ke haribaan-Nya. Bukan sebaliknya, pada saat kita sedang sibuk bekerja, kita menunda-nunda, bahkan melalaikan shalat kita.

Pada saat Nabi Muhammad saw. sampai di masjid Al Aqsha, sebelum masuk ke dalam masjid, buraq yang beliau naiki ditambatkan lebih dahulu, meskipun pada hakekatnya buraq tersebut tidak akan lari atau hilang. Dan andaikata lari atau hilang, pasti malaikat Jibril akan mengembalikannya kepada beliau. Hal ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa dalam melaksanakan tugas hidup dan kehidupan sehari-hari, kita wajib menta’ati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh hukum syariat agama Islam. Kita dilarang untuk berpe-gangan kepada hakekat tanpa mau mentaati syariat.

Setelah Nabi Muhammad saw. melakukan shalat berjama’ah di masjid Al Aqsha, sebelum naik ke dalam kendaraan interplanet yang akan mengantarkan beliau ke suatu tempat yang telah ditentukan oleh Allah swt., beliau disodori tiga macam minuman oleh malaikat Jibril, yaitu: arak, air dan puan (susu). Kemudian beliau memilih susu, yang kemudian pilihan beliau tersebut dibenarkan oleh malaikat Jibril. Hal ini memberi pelajaran kepada kita sekalian, bahwa untuk menjaga stabilitas ketenangan dan ketenteraman jiwa yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup yang hakiki, seseorang dituntut oleh agama Islam agar selalu menjaga dirinya dengan makanan dan minuman yang halal dan bagus bagi kesehatan tubuh, sebagaimana susu yang halal menurut ajaran agama Islam dan bagus menurut ahli kesehatan karena padat gizi. Berbeda halnya dengan arak yang telah dinyatakan haram oleh ajaran agama Islam dan merusak kesehatan menurut para ahli dalam bidang kesehatan. Dan berbeda pula dengan air, meskipun air tawar tersebut halal menurut ajaran syari’at Islam, namun tidak mengandung gizi yang sangat diperlukan bagi kesehatan tubuh manusia. Makanan dan minuman yang halal dan bagus bagi kesehatan tubuh adalah syarat utama bagi do’a untuk dikabulkan oleh Allah swt.

Disamping itu, susu tersebut adalah ibarat dari agama Islam, yang cocok untuk segala umur dan cocok bagi segala macam bangsa di seluruh dunia.